Rabu, 13 April 2022


Oleh : Tuti Yuniarti, S.Pd. M.M.
Kepala SDN Sukarajin Sukanagara.

Pandemi Corona di tahun 2020 ini menyisakan banyak cerita. Ada cerita duka dan juga suka.Penularan Virus Covid 19 yang berawal dari negeri China atau tepatnya dari kota Wuhan ini menyebar secara cepat dan masiv sehingga menyebabkan pandemi  yang  mengerikan dan  menjadi momok bagi  masyarakat dunia. Untuk meminimalisir dampak negatifnya,maka pemerintah maupun masyarakat biasa  bekerjasama untuk berusaha mencegah penularan virus itu agar tidak meluas. Pemerintah secara terus menerus memberikan informasi informasi penting tentang bahaya dan cara pencegahan supaya virus itu tidak menulari kita.Jagad Media Massa setiap hari menayangkan tentang penambahan jumlah korban yang reaktif dan positif Covid 19, jumlah pasien yang sembuh juga pasien yang dinyatakan meninggal karena Covid 19.Situasi terasa mencekam, apalagi setelah pemerintah memberlakukan kebijakan “ lock down” di sebagian kota yang menjadi kluster penyebaran covidnya tinggi, seperti DKI Jakarta dan daerah sekitarnya atau kita kenal dengan wilayah Jabodetabek yang dinyatakan sebagai zona merah.

Adanya kebijakan lockdown yang belum diikuti faktor pendukung dan aturan-aturan yang relevan, menyebabkansebagian dari masyarakat  kita tidak siap melaksanakan kebijakan itu.Banyak diantara mereka yang tetap melaksanakan aktivitas sehari hari mereka dengan alasan ekonomi, meski dibayang-bayangi rasa ketakutan akan tertular. Banyak cerita tentang kebijakan lock down ini, seperti sebuah keluarga yang tidak bisa makan selama dua hari karena ketiadaan penjual beras yang buka, terpaksa mereka hanya makan roti sampai kemudian ada tetangga yang berbaik hati memberinya beras karena mendengar tangisan anak kecil yang terus-menerus. Di lain cerita menjelang tibanya Hari Raya Iedul Fitri, karena sudah tradisi mudik, sebagian masyarakat yang bekerja jauh dari tempat kelahirannya berusaha untuk tetap bisa mudik meski secara sembunyi-sembunyi.Mereka mudik lewat tengah malam dengan mengendarai motor atau bahkan naik truk barang menunggu lengahnya penjaga di  perbatasan. Sebagian dari mereka Alhamdulillah ada yang tiba di kampung halaman dengan selamat meski kemudian harus menjalani karantina mandiri selama 14 hari sesuai aturan pemerintah.Nasib baik ternyata tidak berpihak ke semua orang, ada juga yang ketika di tengah perjalanan di putar balik oleh petugas harus kembali ke kota semula. Tentunya hal ini membuat mereka kecewa, karena harapan untuk bersua dan bercanda ria dengan handai taulan di kampung halaman pupus sudah.Subhanallah..dampak pandemi menyebabkan suasana perayaan Iedul Fitri di tahun 2020 ini sangat berbeda.

    Penyebaran  Covid 19 yang cepat dan masiv, dampaknya sangat terasa terhadap berbagai sektor kehidupan. Di sektor ekonomi dampaknya sangat terasa, karena laju perekonomian seolah jalan di tempat bahkan mengalami kemunduran, banyak pasar baik itu pasar modern maupun tradisional yang terpaksa tutup, perusahaan tidak bisa beroperasi dan merumahkan karyawannya seperti halnya yang terjadi pada salah satu perusahaan penerbangan. Selain di sektor ekonomi dampak pandemi terasa juga di bidang kesehatan.banyak tempat tempat umum yang disulap menjadi tempat pengobatan pasien terdampak Covid 19 atau tempat karantina.Perubahan lain yang nampak di bidang kesehatan dilihat dari Costum atau kelengkapan pakaian yang dikenakan tenaga medis, mulai dari pakaian APD ( alat pelindung diri)yang seperti jas hujan, masker,pace shield sarung tangan dan sepatu boats.Kelengkapan itu harus tetap dikenakan oleh tenaga medis yang merawat pasien covid 19 minimal 10 jam.Tentunya dengan pakaian seperti itu mereka tidak lagi leluasa melaksanakan berbagai aktifitas meskipun hanya memenuhi kebutuhan dasarnya,  bahkan  sebagian diantara mereka banyak yang gugur dalam melaksanakan tugas kemanusiaannya. Pengorbanan yang luar biasa, semoga mereka yang beragama Islam husnul khotimah.Dampak pandemi yang lain merambah di bidang pendidikan. Menteri Pendidikan Indonesia segera mengeluarkan berbagai kebijakan dan surat edaran terkait dengan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemic Covid 19, juga adanya perubahan Juknis  BOS. Dalam Juknis Bos perubahan  tahun 2020,dinyatakan sebagian dari anggaran dana BOS harus digunakan untuk memenuhi protokol kesehatan, agar proses pendidikan tetap berjalan dengan baik dan aman.

    Proses pembelajaran di masa pandemi awal benar-benar menguras pemikiran semua orang terutama yang berkecimpung di dunia pendidikan. Berbagai dialog dan diskusi terus diselenggarakan  dengan menghadirkan para pakar pendidikan  di berbagai media massa untuk mencari formula yang tepat dalam penyelenggaraan pendidikan  di masa pandemi.Hasil dari berbagai dialog dan diskusi itu menerbitkan berbagai peraturan, surat edaran, surat keputusan dan berbagai kebijakan bagaimana proses pembelajaran  itu harus dilaksanakan dengan dampak negative seminimal mungkin.

    Ada beberapa cara yang dilakukan bapak dan ibu guru untuk tetap bisa melaksanakan pembelajaran. Ada yang dengan cara on line/daring, guru dan siswa sama-sama menggunakan media sosial atau dalam hal ini lap top atau gadget untuk menyampaikan dan menerima materi pembelajaran maupun untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Dengan menggunakan cara ini banyak kendala yang dihadapi apalagi sekolah-sekolah yang berada di pedalaman. Dari mulai ketiadaan fasilitas Hp, kuota, keterbatasan pengetahuan cara menggunakan gadget, bahkan sampai  ketiadaan sinyal.Selain itu banyak juga orang tua yang kurang siap dalam membimbing anak belajar di rumah, begitu juga anak yang tidak betah belajar bersama orang tua di rumah.Hal ini menjadi masalah tersendiri dalam pembelajaran daringyang harus segera diselesaikan. Cara lain yang sering dilakukan oleh bapa dan ibu guru terutama yang ada di jenjang SD adalah jarungjung (belajar guru berkunjung). Dalam cara ini guru berkunjung ke rumah-rumah siswa yang sudah dikelompokkan  menurut kelas dan tempat tinggal/domisili.Ada juga jarumah( belajar guru di rumah) siswa belajar di rumah bp/ibu guru sesuai kelas secara bergiliran juga.Dengan cara pembelajaran seperti  ini banyak pengalaman yang dirasakan oleh bapak ibu guru, mulai dari lebih mengenal ekosistem tempat tinggal siswa, lebih dekat dengan orang tua siswa, juga kadangkala membawa rezeki tersendiri. Bapak dan ibu guru yang sudah mengunjungi siswanya belajar di rumah, pulangnya dihadiahi oleh-oleh,  ada beragam sayuran, beras juga gula merah.Alhamdulillah bersyukur padaMu Ya Allah.

    Untuk tetap terlaksananya kegiatan pembelajaran ini, bapak dan ibu Kepala Sekolah tetap harus memantau dan memfasilitasi kegiatan ini meskipun dengan segala keterbatasan.Selalu mensosialisasikan informasi-informasi yang terbaru terkait dengan aturan ataupun kebijakan meski disampaikan lewat Whattshap maupun aplikasi Zoom.Melalui media ini juga bapak dan ibu Kepala Sekolah harus aktif, mulai dari menyapa dan menanyakan kabar bapak dan ibu guru, memberi motivasi dan inspirasi agar mereka tetap semangat dalam melaksanakan tugasnya. Selain itu juga harus memfasilitasi proses pembelajaran dengan mengalokasikan dana Bos untuk pemberian kuota,pembelian hand sanitizer, masker, pace shiel maupun kelengkapan protokol kesehatan yang lainnya seperti tempat cuci tanganbeserta sabun nya di setiap kelas. Bagian tugas yang berikutnya adalah  mendokumentasikan hasil pekerjaan guru serta mengadakan refleksi setiap akhir pekan.

    Pandemi Covid 19 merupakan suatu wabah yang membuat sebagian masyarakat resah, tetapi dibalik itu semua banyak hikmah yang bisa kita ambil.Di tengah wabah pandemi, kita merasa lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta. Banyak do’a yang terpanjat memohon ampun dan perlindunganNya,Pemerintah pun lebih memperhatikan kesejahtraan warganya.Banyak masyarakat yang meningkatrasa kepeduliannya  terhadap sesama,begitu juga  dengan orang tua lebih dekat secara fisik maupunpsikologis  dengan anak-anaknya.Kebersihan tiap individu juga lebih terjaga, namun kita semua berharap semoga wabah ini segera berakhir dan kita semua hidup normal kembali dengan tetap melanjutkan kebiasaan-kebiasaan baru yang positif selama pandemi. Semoga…

GIAT LITERASI DIMASA PANDEMI

Kegemaran membaca tak hanya membuat anak-anak paham banyak ilmu, tapi juga bisa menumbuhkan kesenangan dan kepuasan diri. Membaca untuk kesenangan terbukti berpengaruh kuat pada pengembangan kosakata, keterampilan mengeja hingga matematika.

Selama ini, kegiatan membaca untuk kesenangan banyak dilakukan di sekolah, melibatkan guru sebagai mentornya. Lalu, bagaimana saat pandemi Covid-19, dimana banyak sekolah mengalihkan proses pembelajaran secara daring (dalam jaringan) atau online?

Sebuah proyek penelitian berjudul “Just Read” yang dilakukan di Queenwood School for Girls di Sydney, Australia bisa menjadi panduan sekolah-sekolah di Indonesia untuk membangun budaya dan kecintaan siswa membaca selama pandemi Covid-19.

Memasukkan bacaan harian ke dalam jadwal belajar di rumah

Saat memulai proyek “Just Read” pada Januari 2020, Komite Literasi Queenwood optimistis program ini bisa membangun budaya membaca di sekolah.

Hal ini beralasan karena proyek yang mendapat hibah penelitian dari Asosiasi Sekolah Independen ini telah direncanakan sangat matang. Bahkan, proyek ini dimentori oleh pakar literasi terkemuka dari Universitas Edith Cowan, Dr Margaret Merga.

Direktur Kurikulum Sekolah Menengah, Vanessa Collins mengungkapkan, penelitian ini menyasar siswa mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga kelas 11. Setiap hari, para guru dan siswa diminta membaca dalam hati secara berkelanjutan atau atau Sustained Silent Reading (SSR). Bahan bacaan diserahkan sesuai kesenangan siswa.